GLOMERULONEFRITIS

Glomerulonefritis

Pendahuluan

Glomerulonefritis adalah inflamasi yang terjadi pada penyaring-penyaring di ginjal anda (glomeruli). Glomeruli berfungsi untuk menghilangkan kelebihan cairan, elektrolit, dan racun dari aliran darah dan dikeluarkan dalam bentuk urin. Glomerulonefritis dapat terjadi secara mendadak (akut) atau perlahan-lahan (kronik).

komplikasi Diabetes



1. Komplikasi Jangka Panjang

Diabetes dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang seperti serangan jantung, stroke, kebutaan akibat glukoma, penyakit ginjal, dan luka yang tidak dapat sembuh hingga infeksi sehingga harus diamputasi. Bahkan taraf yang paling mengerikan adalah kematian. Komplikasi-komplikasi ini disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah, kerusakan saraf, dan ketidaksanggupan tubuh melawan infeksi. Namun, tidak semua penderita diabetes mengalami masalah-masalah jangka panjang ini.

GEJALA-GEJALA TERKENA DIABETES


Diantara tanda tanda yang sering muncul pada penderita diabetes melitus antara lain adalah:

1. Sering buang air kecil
2. Sering merasa sangat haus
3. Sering lapar karena tidak mendapat cukup energi sehingga tubuh memberi              sinyal lapar

BEBERAPA FAKTOR PEMICU DIABETES:



1. Obesitas

Tak perlu menjadi orang gemuk untuk berisiko mengalami DM tipe 2. Ukuran pinggang yang menggemuk beberapa kilogram dapat menyebabkan DM tipe 2. Seorang wanita berisiko jika ukuran pinggang mereka lebih dari 80cm. Pria Asia berisiko tinggi bila ukuran pinggang diatas 90 cm.

DIABETES MELITUS / KENCING MANIS / PENYAKIT GULA




Diabetes atau Diabetes Mellitus (DM), dalam bahasa Yunani memiliki arti tembus atau pancuran air, dan dari bahasa latin memiliki arti rasa manis, sedang di Indonesia DM lebih dikenal dengan penyakit kencing manis, di mana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah menjadi tinggi karena tubuh tidak dapat memproduksi atau mengeluarkan insulin secara cukup. Dan dari beberapa tes secara langsung, pada umumnya air seni pengidap diabetes rasanya manis karena mengandung banyak gula.

Setiap makanan yang kita santap akan diubah menjadi energi oleh tubuh. Dalam lambung dan usus, makanan diuraikan menjadi beberapa elemen dasarnya, termasuk salah satu jenis gula, yaitu glukosa. Jika terdapat gula, maka pankreas menghasilkan insulin, yang membantu mengalirkan gula ke dalam sel-sel tubuh. Kemudian, gula tersebut dapat diserap dengan baik dalam tubuh dan dibakar untuk menghasilkan energi.

Ketika seseorang menderita diabetes maka pankreas orang tersebut tidak dapat menghasilkan cukup insulin untuk menyerap gula yang diperoleh dari makanan. Itu yang menyebabkan kadar gula dalam darah menjadi tinggi akibat timbunan gula dari makanan yang tidak dapat diserap dengan baik dan dibakar menjadi energi. Penyebab lain adalah insulin yang cacat atau tubuh tidak dapat memanfaatkan insulin dengan baik.

Insulin adalah hormon yang dihasilkan pankreas, sebuah organ di samping lambung. Hormon ini melekatkan dirinya pada reseptor-reseptor yang ada pada dinding sel. Insulin bertugas untuk membuka reseptor pada dinding sel agar glukosa memasuki sel. Lalu sel-sel tersebut mengubah glukosa menjadi energi yang diperlukan tubuh untuk melakukan aktivitas. Dengan kata lain, insulin membantu menyalurkan gula ke dalam sel agar diubah menjadi energi. Jika jumlah insulin tidak cukup, maka terjadi penimbunan gula dalam darah sehingga menyebabkan diabetes.

Penyebab penyakit kencing manis atau diabetes tergantung pada jenis diabetes yang diderita. Ada 2 jenis diabetes yang umum terjadi dan diderita banyak orang yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. 


Perbedaannya adalah jika diabetes tipe 1 karena masalah fungsi organ pankreas tidak dapat menghasilkan insulin, sedangkan diabetes tipe 2 karena masalah jumlah insulin yang kurang bukan karena pankreas tidak bisa berfungsi baik. Untuk melihat perbedaan lebih detil, silahkan lanjutkan membaca.

TERAPI BERMAIN

1.     Pengertian Bermain
Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadari.(wholey and Wong,1991). Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan untuk memperoleh kesenangan.(Foster,1989) Bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir (Hurlock). Jadi kesimpulannya bermain adalah cara untuk memperoleh kesenangan tanpa mempertimbangkan hasil akhir.

ASKEP STROKE (NANDA, NIC, NOC)



A.    Definisi
Stroke merupakan penyakit neurologis yang sering dijumpai dan harus ditangani secara cepat dan tepat. Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang timbul mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran darah otak dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja (Muttaqin, 2008).
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler
Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak (Corwin, 2009). Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah  kehilangan fungsi otak yang diakibatkan  oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun (Smeltzer et al, 2002).

Baca Juga: Informasi Kesehatan dan Hasil Riset Kesehatan Terbaru

B.    Klasifikasi
1.     Stroke dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala kliniknya, yaitu:(Muttaqin, 2008)
a.      Stroke Hemoragi,
Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun. Perdarahan otak dibagi dua, yaitu:
1)    Perdarahan intraserebral
Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa yang menekan jaringan otak, dan menimbulkan edema otak. Peningkatan TIK yang terjadi cepat, dapat mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intraserebral yang disebabkan karena hipertensi sering dijumpai di daerah putamen, thalamus, pons dan serebelum.

2)    Perdarahan subaraknoid
Pedarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma berry atau AVM. Aneurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi willisi dan cabang-cabangnya yang terdapat diluar parenkim otak.Pecahnya arteri dan keluarnya keruang subaraknoid menyebabkan TIK meningkat mendadak, meregangnya struktur peka nyeri, dan vasospasme pembuluh darah serebral yang berakibat disfungsi otak global (sakit kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparase, gangguan hemisensorik, dll)

b.     Stroke Non Hemoragi
Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral, biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder. Kesadaran umumnya baik.
2.     Menurut perjalanan penyakit atau stadiumnya, yaitu:
a.      TIA (Trans Iskemik Attack) gangguan neurologis setempat yang terjadi selama beberapa menit sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.
b.     Stroke involusi: stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Proses dapat berjalan 24 jam atau beberapa hari.
c.      Stroke komplit: dimana gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau permanen . Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali oleh serangan TIA berulang.

C.     Etiologi
Penyebab stroke menurut Arif Muttaqin (2008):
1.     Thrombosis Cerebral
Thrombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan oedema dan kongesti di sekitarnya. Thrombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah yang dapat menyebabkan iskemi serebral. Tanda dan gejala neurologis memburuk pada 48 jam setelah trombosis.
Beberapa keadaan di bawah ini dapat menyebabkan thrombosis otak:
a.      Aterosklerosis
Aterosklerosis merupakan suatu proses dimana terdapat suatu penebalan dan pengerasan arteri besar dan menengah seperti koronaria, basilar, aorta dan arteri iliaka (Ruhyanudin, 2007). Aterosklerosis adalah mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Manifestasi klinis atherosklerosis bermacam-macam. Kerusakan dapat terjadi melalui mekanisme berikut:
1)    Lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya aliran darah.
2)    Oklusi mendadak pembuluh darah  karena terjadi trombosis.
3)    Merupakan tempat terbentuknya thrombus, kemudian melepaskan kepingan thrombus (embolus).
4)    Dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan.

b.     Hyperkoagulasi pada polysitemia
Darah bertambah kental, peningkatan viskositas/ hematokrit meningkat dapat melambatkan aliran darah serebral.

c.      Arteritis( radang pada arteri )

d.     Emboli
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan darah, lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari thrombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebral. Emboli tersebut berlangsung cepat dan gejala timbul kurang dari 10-30 detik. Beberapa keadaan dibawah ini dapat menimbulkan emboli:
1)    Katup-katup jantung yang rusak akibat Rheumatik Heart Desease (RHD).
2)    Myokard infark
3)    Fibrilasi. Keadaan aritmia menyebabkan berbagai bentuk pengosongan ventrikel sehingga darah terbentuk gumpalan kecil dan sewaktu-waktu kosong sama sekali dengan mengeluarkan embolus-embolus kecil.
4)    Endokarditis oleh bakteri dan non bakteri, menyebabkan terbentuknya gumpalan-gumpalan pada endocardium.

2.     Haemorhagi
Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan dalam ruang subarachnoid atau kedalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi karena atherosklerosis dan hypertensi. Akibat pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan, pergeseran dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan, sehingga otak akan membengkak, jaringan otak tertekan, sehingga terjadi infark otak, oedema, dan mungkin herniasi otak.

3.     Hipoksia Umum
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia umum adalah:
a.      Hipertensi yang parah.
b.     Cardiac Pulmonary Arrest
c.      Cardiac output turun akibat aritmia

4.     Hipoksia Setempat
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia setempat adalah:
a.      Spasme arteri serebral, yang disertai perdarahan subarachnoid.
b.     Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migrain.


 D.     Patofisiologi
Infark serbral adalah berkurangnya suplai darah ke area tertentu di otak. Luasnya infark bergantung pada faktor-faktor seperti lokasi dan besarnya pembuluh darah dan adekuatnya sirkulasi kolateral terhadap area yang disuplai oleh pembuluh darah yang  tersumbat. Suplai darah ke otak dapat berubah (makin lmbat atau cepat) pada gangguan lokal (thrombus, emboli, perdarahan dan spasme vaskuler) atau oleh karena gangguan umum (hipoksia karena gangguan paru dan jantung). Atherosklerotik sering ataucenderung sebagai faktor penting terhadap otak, thrombus dapat berasal dari flak arterosklerotik, atau darah dapat beku pada area yang stenosis, dimana aliran darah akan lambat atau terjadi turbulensi.
Thrombus dapat pecah dari dinding pembuluh darah terbawa sebagai emboli dalam aliran darah. Thrombus mengakibatkan; iskemia jaringan otak yang disuplai oleh pembuluh darah yang bersangkutan dan edema dan kongesti disekitar area. Areaedema ini menyebabkan disfungsi yang lebih besar daripada area  infark itu sendiri. Edema dapat berkurang dalam beberapa jam atau kadang-kadang sesudah beberapa hari. Dengan berkurangnya edema pasien mulai menunjukan perbaikan. Oleh karena thrombosis biasanya tidak fatal, jika tidak terjadi perdarahan masif. Oklusi pada pembuluh darah serebral oleh  embolus menyebabkan edema dan nekrosis diikuti thrombosis. Jika terjadi septik infeksi akan meluas pada dinding pembukluh darah maka akan terjadi abses atau ensefalitis, atau jika sisa infeksi berada pada pembuluh darah yang tersumbat menyebabkan dilatasi aneurisma pembuluh darah. Hal ini akan menyebabkan perdarahan cerebral, jika aneurisma pecah atau ruptur.
Perdarahan pada otak lebih disebabkan oleh ruptur arteriosklerotik dan hipertensi pembuluh darah. Perdarahan intraserebral yang sangat luas akan menyebabkan kematian dibandingkan dari keseluruhan penyakit cerebro vaskuler, karena perdarahan yang luas terjadi destruksi massa otak, peningkatan tekanan intracranial dan yang lebih berat dapat menyebabkan herniasi otak.
Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak, dan perdarahan batang otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke batang otak. Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan otak di nukleus kaudatus, talamus dan pons.
Jika sirkulasi serebral terhambat, dapat berkembang anoksia cerebral. Perubahan disebabkan oleh anoksia serebral dapat reversibel untuk jangka waktu 4-6 menit. Perubahan irreversibel bila anoksia lebih dari 10 menit. Anoksia serebral dapat terjadi oleh karena gangguan yang bervariasi salah satunya henti jantung.
Selain kerusakan parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relatif banyak akan mengakibatkan peningian tekanan intrakranial dan mentebabkan menurunnya tekanan perfusi otak serta terganggunya drainase otak. Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta kaskade iskemik akibat menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan neuron-neuron di daerah yang terkena darah dan sekitarnya tertekan lagi.
Jumlah darah yang keluar menentukan prognosis. Apabila volume darah lebih dari 60 cc maka resiko kematian sebesar 93 % pada perdarahan dalam dan 71 % pada perdarahan lobar. Sedangkan bila terjadi perdarahan serebelar dengan volume antara 30-60 cc diperkirakan kemungkinan kematian sebesar 75 % tetapi volume darah 5 cc dan terdapat di pons sudah berakibat fatal. (Muttaqin 2008)


E.     Manifestasi Klinis
Stoke menyebabkan defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adekuat dan jumlah aliran darah kolateral. Stroke akan meninggalkan gejala sisa karena fungsi otak tidak akan membaik sepenuhnya.
    1.     Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiparese atau hemiplegia)
    2.     Lumpuh pada salah satu sisi wajah  anggota badan (biasanya hemiparesis) yang timbul mendadak.
    3.     Tonus otot lemah atau kaku
    4.     Menurun atau hilangnya rasa
    5.     Gangguan lapang pandang “Homonimus Hemianopsia”
    6.     Afasia (bicara tidak lancar atau kesulitan memahami ucapan)
    7.     Disartria (bicara pelo atau cadel)
    8.     Gangguan persepsi
    9.     Gangguan status mental
    10.Vertigo, mual, muntah, atau nyeri kepala.

F.     Komplikasi
Setelah mengalami stroke pasien mungkin akan mengalmi komplikasi, komplikasi ini dapat dikelompokan berdasarkan:
1.     Berhubungan dengan immobilisasi infeksi pernafasan, nyeri pada daerah tertekan, konstipasi dan thromboflebitis.
2.     Berhubungan dengan paralisis nyeri pada daerah punggung, dislokasi sendi, deformitas dan terjatuh.
3.     Berhubungan dengan kerusakan otak, epilepsi dan sakit kepala.
4.     Hidrocephalus.
Individu yang menderita stroke berat pada bagian otak yang mengontrol respon pernapasan atau kardiovaskuler dapat meninggal.

G.    Pemeriksaan Penunjang
1.     Angiografi serebral
Menentukan penyebab stroke scr spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri.
2.     Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT).
Untuk mendeteksi luas dan daerah abnormal dari otak, yang juga mendeteksi, melokalisasi, dan mengukur stroke (sebelum nampak oleh pemindaian CT).
3.     CT scan
Pemindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan posisinya secara pasti.
4.     MRI (Magnetic Imaging Resonance)
Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi dan bsar terjadinya perdarahan otak. Hasil yang didapatkan area yang mengalami lesi dan infark akibat dari hemoragik.
5.     EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan dampak dari jaringan yang infark sehingga menurunya impuls listrik dalam jaringan otak.
6.     Pemeriksaan laboratorium
a.      Lumbang fungsi: pemeriksaan likuor merah biasanya dijumpai pada perdarahan yang masif, sedangkan pendarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama.
b.     Pemeriksaan darah rutin (glukosa, elektrolit, ureum, kreatinin)
c.      Pemeriksaan kimia darah: pada strok akut dapat terjadi hiperglikemia.
d.     Gula darah dapat mencapai 250 mg di dalam serum dan kemudian berangsur-rangsur turun kembali.
e.      Pemeriksaan darah lengkap: untuk mencari kelainan pada darah itu sendiri.

H.   Penatalaksanaan Medis
Tujuan intervensi adalah berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan melakukan tindakan sebagai berikut:
a.      Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan lendiryang sering, oksigenasi, kalau perlu lakukan trakeostomi, membantu pernafasan.
b.     Mengendalikan tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk untuk usaha memperbaiki hipotensi dan hipertensi.
c.      Berusaha menentukan dan memperbaiki aritmia jantung.
d.     Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan secepat mungkin pasien harus dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihan-latihan gerak pasif.
e.      Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK
Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi kepala yang berlebihan.

Pengobatan Konservatif
a.      Vasodilator meningkatkan aliran darah serebral (ADS) secara percobaan, tetapi maknanya: pada tubuh manusia belum dapat dibuktikan.
b.     Dapat diberikan histamin, aminophilin, asetazolamid, papaverin intra arterial.
c.      Anti agregasi thrombosis seperti aspirin digunakan untuk menghambat reaksi pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma.
d.     Anti koagulan dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya/ memberatnya trombosis atau emboli di tempat lain di sistem kardiovaskuler.

Pengobatan Pembedahan
Tujuan utama adalah memperbaiki aliran darah serebral :
a.      Endosterektomi karotis membentuk kembali arteri karotis, yaitu dengan membuka arteri karotis di leher.
b.     Revaskularisasi terutama merupakan tindakan pembedahan dan manfaatnya paling dirasakan oleh pasien TIA.
c.      Evaluasi bekuan darah dilakukan pada stroke akut
d.     Ugasi arteri karotis komunis di leher khususnya pada aneurisma.

Fase stroke ada tiga stadium yaitu sebagai berikut:
1.     Stadium Hiperakut
Tindakan pada stadium ini dilakukan di Instalasi Rawat Darurat dan merupakan tindakanresusitasi serebro-kardio-pulmonal bertujuan agarkerusakan jaringan otak tidak meluas. Padastadium ini, pasien diberi oksigen 2 L/menit dancairan kristaloid/koloid; hindari pemberian cairandekstrosa atau salin dalam H2O. Dilakukan pemeriksaan CT scan otak, elektrokardiografi, foto toraks, darah perifer lengkap dan jumlah trombosit, protrombin time/INR, APTT, glukosa darah, kimia darah (termasuk elektrolit); jika hipoksia, dilakukan analisis gas darah.Tindakan lain di Instalasi Rawat Darurat adalah memberikan dukungan mental kepada pasien serta memberikan penjelasan pada keluarganya agar tetap tenang.

2.     Stadium Akut
Pada stadium ini, dilakukan penanganan faktor-faktor etiologik maupun penyulit. Juga dilakukantindakan terapi fisik, okupasi, wicara danm psikologis serta telaah sosial untuk membantupemulihan pasien. Penjelasan dan edukasi kepada keluarga pasien perlu, menyangkut dampakstroke terhadap pasien dan keluarga sertatata cara perawatan pasien yang dapat dilakukankeluarga.

a.      Stroke Iskemik
1)    Terapi Umum
Letakkan kepala pasien pada posisi 300, kepala dan dada pada satu bidang; ubah posisi tidursetiap 2 jam; mobilisasi dimulai bertahap bila hemodinamik sudah stabil.Selanjutnya, bebaskan jalan napas, beri oksigen 1-2 liter/menit sampai didapatkan hasilanalisis gas darah. Jika perlu, dilakukan intubasi.Demam diatasi dengan kompres dan antipiretik,kemudian dicari penyebabnya; jika kandungkemih penuh, dikosongkan (sebaiknya dengankateter intermiten).
Pemberian nutrisi dengan cairan isotonik, kristaloid atau koloid 1500-2000 mL dan elektrolitsesuai kebutuhan, hindari cairan mengandungglukosa atau salin isotonik. Pemberiannutrisi per oral hanya jika fungsi menelannyabaik; jika didapatkan gangguan menelan ataukesadaran menurun, dianjurkan melalui selangnasogastrik.
Kadar gula darah >150 mg% harus dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu 150 mg%dengan insulin drip intravena kontinu selama2-3 hari pertama. Hipoglikemia (kadar gula darah< 60 mg% atau < 80 mg% dengan gejala) diatasisegera dengan dekstrosa 40% iv sampaikembali normal dan harus dicari penyebabnya.
Nyeri kepala atau mual dan muntah diatasi dengan pemberian obat-obatan sesuai gejala.Tekanan darah tidak perlu segera diturunkan,kecuali bila tekanan sistolik ≥220 mmHg,diastolik ≥120 mmHg, Mean Arterial BloodPressure (MAP) ≥ 130 mmHg (pada 2 kalipengukuran dengan selang waktu 30 menit),atau didapatkan infark miokard akut, gagaljantung kongestif serta gagal ginjal. Penurunantekanan darah maksimal adalah 20%, danobat yang direkomendasikan: natrium nitroprusid,penyekat reseptor alfa-beta, penyekatACE, atau antagonis kalsium.
Jika terjadi hipotensi, yaitu tekanan sistolik ≤ 90 mm Hg, diastolik ≤70 mmHg, diberi NaCl0,9% 250 mL selama 1 jam, dilanjutkan 500 mLselama 4 jam dan 500 mL selama 8 jam atausampai hipotensi dapat diatasi. Jika belum terkoreksi,yaitu tekanan darah sistolik masih < 90mmHg, dapat diberi dopamin 2-20 μg/kg/menitsampai tekanan darah sistolik ≥ 110 mmHg.
Jika kejang, diberi diazepam 5-20 mg iv pelan-pelan selama 3 menit, maksimal 100 mg perhari; dilanjutkan pemberian antikonvulsan peroral (fenitoin, karbamazepin). Jika kejang munculsetelah 2 minggu, diberikan antikonvulsanperoral jangka panjang.Jika didapatkan tekanan intrakranial meningkat,diberi manitol bolus intravena 0,25 sampai 1 g/kgBB per 30 menit, dan jika dicurigai fenomenarebound atau keadaan umum memburuk, dilanjutkan0,25g/kgBB per 30 menit setiap 6jam selama 3-5 hari. Harus dilakukan pemantauanosmolalitas (<320 mmol); sebagai alternatif,dapat diberikan larutan hipertonik (NaCl3%) atau furosemid.

2)    Terapi khusus:
Ditujukan untuk reperfusi dengan pemberianantiplatelet seperti aspirin dan anti koagulan,atau yang dianjurkan dengan trombolitik rt-PA(recombinant tissue Plasminogen Activator).Dapat juga diberi agen neuroproteksi, yaitusitikolin atau pirasetam (jika didapatkan afasia).

b.     Stroke Hemoragik
1)    Terapi umum
Pasien stroke hemoragik harus dirawat di ICUjika volume hematoma >30 mL, perdarahanintraventrikuler dengan hidrosefalus, dan keadaanklinis cenderung memburuk.Tekanan darah harus diturunkan sampaitekanan darah premorbid atau 15-20% bilatekanan sistolik >180 mmHg, diastolik >120mmHg, MAP >130 mmHg, dan volume hematomabertambah. Bila terdapat gagal jantung,tekanan darah harus segera diturunkan denganlabetalol iv 10 mg (pemberian dalam 2 menit)sampai 20 mg (pemberian dalam 10 menit)maksimum 300 mg; enalapril iv 0,625-1.25 mgper 6 jam; kaptopril 3 kali 6,25-25 mg per oral.
Jika didapatkan tanda tekanan intrakranialmeningkat, posisi kepala dinaikkan 300, posisikepala dan dada di satu bidang, pemberianmanitol (lihat penanganan stroke iskemik),dan hiperventilasi (pCO2 20-35 mmHg).Penatalaksanaan umum sama dengan padastroke iskemik, tukak lambung diatasi denganantagonis H2 parenteral, sukralfat, atau inhibitorpompa proton; komplikasi salurannapas dicegah dengan fisioterapi dan diobatidengan antibiotik spektrum luas.

2)    Terapi khusus
Neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang bersifatvasodilator. Tindakan bedah mempertimbangkanusia dan letak perdarahan yaitu padapasien yang kondisinya kian memburuk denganperdarahan serebelum berdiameter >3 cm3, hidrosefalusakut akibat perdarahan intraventrikel atauserebelum, dilakukan VP-shunting, dan perdarahanlobar >60 mL dengan tanda peningkatantekanan intrakranial akut dan ancaman herniasi.
Pada perdarahan subaraknoid, dapat digunakan antagonis kalsium (nimodipin) atau tindakanbedah (ligasi, embolisasi, ekstirpasi, maupungamma knife) jika penyebabnya adalah aneurismaatau malformasi arteri-vena (arteriovenousmalformation, AVM).

3.     Stadium Subakut
Tindakan medis dapat berupa terapi kognitif, tingkah laku, menelan, terapi wicara, danbladder training (termasuk terapi fisik). Mengingatperjalanan penyakit yang panjang, dibutuhkanpenatalaksanaan khusus intensifpasca stroke di rumah sakit dengan tujuankemandirian pasien, mengerti, memahami danmelaksanakan program preventif primer dan sekunder.
Terapi fase subakut:
a.      Melanjutkan terapi sesuai kondisi akut sebelumnya.
b.     Penatalaksanaan komplikasi.
c.      Restorasi/rehabilitasi (sesuai kebutuhan pasien) yaitu fisioterapi, terapi wicara, terapi kognitif, dan terapi okupasi.
d.     Prevensi sekunder.
e.      Edukasi keluarga dan Discharge Planning.


ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Pengkajian
1.     Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnosa medis.
2.     Keluhan utama
Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi.
3.     Riwayat penyakit sekarang
Serangan stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain.
4.     Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan.
5.     Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus.

Pengumpulan Data
a.      Aktivitas/istirahat:
Klien akan mengalami kesulitan aktivitas akibat kelemahan, hilangnya rasa, paralisis, hemiplegi, mudah lelah, dan susah tidur.
b.     Sirkulasi
Adanya riwayat penyakit jantung, katup jantung, disritmia, CHF, polisitemia. Dan hipertensi arterial.
c.      Integritas Ego.
Emosi labil, respon yang tak tepat, mudah marah, kesulitan untuk mengekspresikan diri.
d.     Eliminasi
Perubahan kebiasaan Bab. dan Bak. Misalnya inkoontinentia urine, anuria, distensi kandung kemih, distensi abdomen, suara usus menghilang.
e.      Makanan/caitan :
Nausea, vomiting, daya sensori hilang, di lidah, pipi, tenggorokan, dysfagia
f.       Neuro Sensori
Pusing, sinkope, sakit kepala, perdarahan sub arachnoid, dan intrakranial. Kelemahan dengan berbagai tingkatan, gangguan penglihatan, kabur, dyspalopia, lapang pandang menyempit. Hilangnya daya sensori pada bagian yang berlawanan dibagian ekstremitas dan kadang-kadang pada sisi yang sama di muka.
g.      Nyaman/nyeri
Sakit kepala, perubahan tingkah laku kelemahan, tegang pada otak/muka
h.     Respirasi
Ketidakmampuan menelan, batuk, melindungi jalan nafas. Suara nafas, whezing, ronchi.
i.        Keamanan
Sensorik motorik menurun atau hilang mudah terjadi injury. Perubahan persepsi dan orientasi Tidak mampu menelan sampai ketidakmampuan mengatur kebutuhan nutrisi. Tidak mampu mengambil keputusan.
j.        Interaksi sosial
Gangguan dalam bicara, Ketidakmampuan berkomunikasi.


B.    DiagnosisKeperawatan
   1.     Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak  b.d aterosklerosis aortik. (Nanda, Domain 4, 00201, hal. 252)
   2.     Hambatan komunikasi verbal b.d gangguan sistem saraf pusat. (Nanda Domain 5, 00051, hal. 278)
   3.     Defisit perawatan diri; mandi b.d kerusakan neuromuskular. (Nanda Domain 4, 00108, hal. 258)
  4.     Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskular. (Nanda Domain 4, 00085, hal. 232)
  5.     Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan disfungsi neuromuskular (Nanda Domain 4, 00032, hal. 243)
  6.     Risiko kerusakan integritas kulit b.d gangguan sirkulasi (Nanda, Domain 11, 00047, hal. 426)
  7.     Risiko aspirasi berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran (Nanda, Domain 11, 00039, hal. 407)
  8.     Risiko cedera berhubungan dengan hipoksia jaringan  (Nanda, Domain 11, 00035, hal. 412)


C.      IntervensiKeperawatan
No
Diagnosis
Keperawatan
Tujuan (NOC)
Intervensi (NIC)
1.
Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak  b.d aterosklerosis aortik. (Nanda, Domain 4, 00201, hal. 252)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan suplai aliran darah keotak lancar dengan kriteria hasil:
NOC :
Circulation status
Tissue Prefusion : cerebral

Kriteria Hasil :
1.     Mendemonstrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan :
·        Tekanan sistol dandiastol dalam rentang yang diharapkan.
·        Tidak ada ortostatikhipertensi.
·        Tidak ada tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial (tidak lebih dari 15 mmHg).

2.     Mendemonstrasikan kemampuan kognitif yang ditandai dengan:
·        Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan.
·        Menunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi.
·        Memproses informasi.
·        Membuat keputusan dengan benar.

3.     Menunjukkan fungsi sensori motori cranial yang utuh : tingkat kesadaran membaik, tidak ada gerakan gerakan involunter
NIC :
Monitoring (Monitor tekanan intrakranial)
1.     Berikan informasi kepada keluarga
2.     Set alarm
3.     Monitor tekanan perfusi serebral
4.     Catat respon pasien terhadap stimuli
5.     Monitor tekanan intrakranial pasien dan respon neurology terhadap aktivitas
6.     Monitor jumlah drainage cairan serebrospinal
7.     Monitor intake dan output cairan
8.     Restrain pasien jika perlu
9.     Monitor suhu dan angka WBC
10.Kolaborasi pemberian antibiotik
11.Posisikan pasien pada posisi semifowler
12.Minimalkan stimuli dari lingkungan

Terapi oksigen
1.     Bersihkan jalan nafas dari secret
2.     Pertahankan jalan nafas tetap efektif
3.     Berikan oksigen sesuai intruksi
4.     Monitor aliran oksigen, kanul oksigen dan sistem humidifier
5.     Beri penjelasan kepada klien tentang pentingnya pemberian oksigen
6.     Observasi tanda-tanda hipo-ventilasi
7.     Monitor respon klien terhadap pemberian oksigen
8.     Anjurkan klien untuk tetap memakai oksigen selama aktifitas dan tidur
2
Hambatan komunikasi verbal b.d gangguan sistem saraf pusat. (Nanda Domain 5, 00051, hal. 278)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama  3 x 24 jam, diharapkan klien mampu untuk berkomunikasi lagi dengan kriteria hasil:
NOC:
Komunikasi: Mengekspresikan
1.     Dapat menjawab pertanyaan yang diajukan perawat
2.     Dapat mengerti dan memahami pesan-pesan melalui gambar
3.     Dapat mengekspresikan perasaannya secara verbal maupun nonverbal
NIC:
Mendengar Aktif
1.     Libatkan keluarga untuk membantu memahami atau memahamkan informasi dari dan ke klien
2.     Dengarkan setiap ucapan klien dengan penuh perhatian
3.     Gunakan kata-kata sederhana dan pendek dalam komunikasi dengan klien
4.     Dorong klien untuk mengulang kata-kata
5.     Berikan arahan / perintah yang sederhana setiap interaksi dengan klien
6.     Programkan speech-language terapi
7.     Lakukan speech-language terapi setiap interaksi dengan klien
3
Defisit perawatan diri; mandi b.d kerusakan neuromuskular. (Nanda Domain 4, 00108, hal. 258)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam, diharapkan kebutuhan mandiri klien terpenuhi, dengan kriteria hasil:
NOC :
Self care : Activity of Daily Living (ADLs)

Kriteria Hasil :
1.     Klien terbebas dari bau badan
2.     Menyatakan kenyamanan terhadap kemampuan untuk melakukan ADLs
3.     Dapat melakukan ADLS dengan bantuan
   
NIC :
Self Care assistance : ADLs
1.     Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri yang mandiri.
2.     Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk kebersihan diri, berpakaian, berhias, toileting dan makan.
3.     Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk melakukan self-care.
4.     Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang normal sesuai kemampuan yang dimiliki.
5.     Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu melakukannya.
6.     Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong kemandirian, untuk memberikan bantuan hanya jika pasien tidak mampu untuk melakukannya.
7.     Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai kemampuan.
8.     Pertimbangkan usia klien jika mendorong pelaksanaan aktivitas sehari-hari. 
4
Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskular. (Nanda Domain 4, 00085, hal. 232)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan klien dapat melakukan pergerakan fisik dengan kriteria hasil :
NOC
Mobility Level

Kriteria Hasil :
1.     Klien meningkat dalam aktivitas fisik
2.     Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
3.     Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan berpindah
4.     Memperagakan penggunaan alat bantu untuk mobilisasi (walker)
NIC :
Exercise therapy : ambulation
1.     Monitoring vital sign sebelm/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan
2.     Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai dengan kebutuhan
3.     Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah terhadap cedera
4.     Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain tentang teknik ambulasi
5.     Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
6.     Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan
7.     Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan ADLs ps.
8.     Berikan alat Bantu jika klien memerlukan.
9.     Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan
5
Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan disfungsi neuromuskular (Nanda Domain 4, 00032, hal. 243)
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan pola nafas pasien efektif dengan kriteria hasil :
Menujukkan jalan nafas paten (tidak merasa tercekik, irama nafas normal, frekuensi nafas normal,tidak ada suara nafas tambahan
NOC :
Respiratory status : Airway patency

Kriteria Hasil :
1.     Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
2.     Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal.
3.     Tanda tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan
NIC :
Airway Management
1.     Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
2.     Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
3.     Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
4.     Pasang mayo bila perlu
5.     Lakukan fisioterapi dada jika perlu
6.     Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
7.     Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
8.     Lakukan suction pada mayo
9.     Berikan bronkodilator bila perlu
10.Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
11.Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
12.Monitor respirasi dan status O2

Oxygen Therapy
1.     Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
2.     Pertahankan jalan nafas yang paten
3.     Atur peralatan oksigenasi
4.     Monitor aliran oksigen
5.     Pertahankan posisi pasien
6.     Onservasi adanya tanda tanda hipoventilasi
7.     Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
6
Risiko kerusakan integritas kulit b.d gangguan sirkulasi (Nanda, Domain 11, 00047, hal. 426)
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan pasien mampu mengetahui dan  mengontrol resiko dengan kriteria hasil :
NOC :
Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes

Kriteria Hasil :
1.     Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)
2.     Tidak ada luka/lesi pada kulit
3.     Perfusi jaringan baik
4.     Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang
5.     Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami
NIC : Pressure Management
1.     Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
2.     Hindari kerutan padaa tempat tidur
3.     Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
4.     Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali
5.     Monitor kulit akan adanya kemerahan
6.     Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan
7.     Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
8.     Monitor status nutrisi pasien
9.     Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
7
Risiko aspirasi berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran (Nanda, Domain 11, 00039, hal. 407)
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan tidak terjadi aspirasi pada pasien dengan kriteria hasil :
NOC :
Aspiration control

Kriteria Hasil :
1.     Klien dapat bernafas dengan mudah, tidak irama, frekuensi pernafasan normal
2.     Pasien mampu menelan, mengunyah tanpa terjadi aspirasi, dan mampumelakukan oral hygiene
3.     Jalan nafas paten, mudah bernafas, tidak merasa tercekik dan tidak ada suara nafas abnormal
NIC:
Aspiration precaution
1.     Monitor tingkat kesadaran, reflek batuk dan kemampuan menelan
2.     Monitor status paru
3.     Pelihara jalan nafas
4.      Lakukan suction jika diperlukan
5.     Cek nasogastrik sebelum makan
6.     Hindari makan kalau residu masih banyak
7.     Potong makanan kecil kecil
8.     Haluskan obat sebelumpemberian
9.     Naikkan kepala 30-45 derajat setelah makan
8
Risiko cedera berhubungan dengan hipoksia jaringan (Nanda, Domain 11, 00035, hal. 412)
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan tidak terjadi trauma pada pasien dengan kriteria hasil:
NOC :
Risk Kontrol

Kriteria Hasil :
1.     Klien terbebas dari cedera
2.     Klien mampu menjelaskan cara atau metode untukmencegah injuria tau cedera
3.     Klien mampu menjelaskan factor resiko dari lingkungan/perilaku personal
4.     Mampumemodifikasi gaya hidup untukmencegah injury
5.     Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
6.     Mampu mengenali perubahan status kesehatan
NIC : Environment Management (Manajemen lingkungan)
1.     Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien
2.     Identifikasi kebutuhan keamanan pasien, sesuai dengan kondisi fisik dan fungsi kognitif  pasien dan riwayat penyakit terdahulu pasien
3.     Menghindarkan lingkungan yang berbahaya (misalnya memindahkan perabotan)
4.     Memasang side rail tempat tidur
5.     Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
6.     Menempatkan saklar lampu ditempat yang mudah dijangkau pasien.
7.     Membatasi pengunjung
8.     Memberikan penerangan yang cukup
9.     Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien.
10.Mengontrol lingkungan dari kebisingan
11.Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan
12.Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau pengunjung adanya perubahan status kesehatan dan penyebab penyakit.



DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. 2003Rencana Asuhan & Dokumentasi KeperawatanJakartaEGC
Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi. Jakarta: EGC
Johnson, M., et all. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). New Jersey: Upper Saddle River
Mc Closkey, C.J., et all. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC). New Jersey: Upper Saddle River
Herdman, T. Heather.et all.  2015. Panduan Diagnosis Keperawatan NANDA 2015-20017. Jakarta: EGC.
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid Kedua. Jakarta: Media Aesculapius FKUI
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.Jakarta: Salemba Medika
Smeltzer, dkk. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2. alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih. Jakarta: EGC.
Tim SAK Ruang Rawat Inap RSUD Wates. 2006. Standard Asuhan Keperawatan Penyakit Saraf. Yogyakarta: RSUD Wates Kabupaten Kulonprogo
Setyopranoto, Ismail. 2011. Stroke: Gejala dan Penatalaksanaan. Yogyakarta: Kepala Unit Stroke RSUP Dr Sardjito/ Bagian Ilmu Penyakit Saraf, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada,

ASKEP

More »

NON ASKEP

More »